Bagi Ibu, Memasak Bukan Sekadar Kewajiban

10 May 2017 18:12 FMCG Super Administrator

Ibu dan memasak adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bahkan dalam pelajaran bahasa Indonesia, jika seorang siswa diperintahkan untuk membuat kalimat berpredikat “memasak”, maka dengan spontan subjek akan diisi oleh “ibu” atau subjek lainnya yang umumnya juga wanita. Jadi, kalimat yang dibuat pasti Ibu sedang memasak atau misalnya Rani sedang memasak, bukan Ayah sedang memasak atau Ridwan sedang memasak. Hal tersebut mencerminkan bahwa budaya memasak menggambarkan citra seorang wanita. Karena memang umumnya memasak dianggap sebagai kewajiban seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu.

Tapi apakah memasak dianggap semata-mata sebagai kewajiban saja? Riset yang dilakukan Inside.ID berhasil menemukan alasan-alasan di balik kegiatan sang ibu yang satu ini. Dan ditemukan hasil bahwa terdapat tiga alasan di balik kegiatan memasak para ibu.

Pertama, memasak adalah hobi

Hobi adalah sesuatu yang amat disenangi oleh seseorang. Melakukan hobi berarti melakukan hal yang menyenangkan. Begitu juga bagi para ibu yang mengaku bahwa memasak adalah hobi. Memasak adalah sesuatu yang mereka lakukan dengan penuh gairah.

Saat seorang ibu menganggap kegiatan memasak sebagai hobi, maka hal ini menimbulkan keuntungan secara emosional. Sang ibu akan dengan senang hati menyiapkan makanan untuk keluarganya, sehingga memasak bukanlah menjadi kewajiban yang membebani dirinya. Selain itu, karena memasak adalah hobi, sang ibu akan sering mencoba-coba atau melakukan eksperimen terhadap masakannya yang berdampak pada keahlian memasaknya yang semakin terasah.

Kedua, memasak adalah bagian dari peran ibu

Ibu adalah koki andalan sepanjang zaman. Ya, memang benar. Dengan tangannya, lahir masakan-masakan yang tak hanya lezat di lidah, tapi juga masakan yang penuh dengan emosi; cinta. Meski mungkin masakan di luar lebih enak, tapi masakan seorang ibu tetaplah yang terbaik karena mereka melakukannya dengan hati. Hal itulah yang menyebabkan munculnya istilah “memasak dengan cinta untuk yang tercinta”.

Sebagai seorang ibu atau istri, salah satu kewajiban mereka adalah menyiapkan makanan terbaik untuk keluarganya. Maka dari itu responden dalam riset ini mengaku bahwa alasan mereka memasak adalah menjalankan tugas seorang ibu sebagaimana mestinya. Peran mereka sebagai ibu yang juga merangkap koki secara otomatis akan menggerakkan tangan sang ibu untuk senantiasa menyajikan santapan terbaik bagi keluarganya.

Tak hanya di Indonesia, di negara lain pun sama, misalnya Jepang, memasak adalah salah satu tugas penting seorang ibu. Hal tersebut tergambar dari salah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari ibu rumah tangga di Jepang yang dikutip oleh travel.cnn.com, “jika kamu pintar memasak, kamu akan memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia”.

Ketiga, memasak adalah kebangaan seorang menantu

Saat seseorang wanita telah menikah, itu berarti bahwa ia akan menggantikan sosok “koki” bagi suaminya. Ia harus bisa mengambil hati sang suami agar tidak membandingkan masakannya dengan masakan sang mertua. Selain itu, ibu mertua akan merasa bangga ketika menantunya bisa menyiapkan makanan untuk anaknya.

Di Indonesia sendiri, kemampuan memasak seorang menantu cukup berpengaruh bagi seorang ibu. Tak jarang seorang ibu memberikan syarat “pintar masak” kepada calon menantunya. Hal itu semata-mata karena sang mertua yakin bahwa wanita yang pandai memasak, bisa membahagiakan anak dan cucunya kelak. Tak berbeda dengan Indonesia, seperti yang dilansir oleh indiatimes.com, memasak adalah salah satu hal penting yang harus dipelajari oleh wanita India sebelum menikah. Mereka bisa menarik kekaguman dari sang mertua dengan kemampuan memasak yang mereka miliki.

Nah, dari penjelasan-penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa di balik kegiatan memasak seorang ibu terdapat alasan-alasan yang cukup emosional. Dan alasan-alasan itulah yang akhirnya mendorong sang ibu untuk selalu menyajikan makanan yang terbaik untuk keluarganya.

Untuk laporan riset selengkapnya, hubungi kami.