E-Commerce Tidak Menakjubkan Tanpa Fasilitas Perbankan

15 May 2017 11:45 Media & Hiburan Super Administrator

E-Commerce atau situs belanja online memang sedang booming akhir-akhir ini. Pasalnya layanan-layanan serba instan yang mereka tawarkan mampu menarik hati para pembeli khususnya dalam hal penghematan waktu dan tenaga.

Peter Fingar seorang ahli strategi bisnis mengungkapkan bahwa pada prinsipnya e-commerce menyediakan infrastruktur bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi proses bisnis internal menuju lingkungan eksternal tanpa harus menghadapi rintangan waktu dan ruang (time and space) yang selama ini menjadi isu utama. Jadi, sudah jelas memang inovasi bisnis ini bertujuan dalam upaya penghematan ruang dan waktu. Bagi penjual, mereka tak perlu lagi memusingkan biaya sewa tempat. Sedang bagi pembeli, mereka tak perlu pusing lagi mengatur jadwal belanja dan berlelah-lelah mengunjungi satu toko ke toko lainnya.

Tak main-main, dalam memudahkan proses bertransaksi e-commerce juga menggandeng produk inovasi dari jasa perbankan, seperti ATM, e-banking, m-banking, dan lainnya sebagai medium bertransaksi. Inovasi dunia perbankan dan dunia perdagangan ini benar-benar menjadi teman akrab yang saling mengisi. Keduanya seakan paham bahwa masyarakat urban membutuhkan segalanya yang berbau instan.

Maka tak heran kalau riset Inside.ID menunjukkan bahwa 3 dari 4 responden memilih metode pembayaran melalui transfer bank. Hal ini disebabkan karena metode ini merupakan metode paling popular yang dapat dilakukan semua nasabah perbankan. Selain itu juga fasilitas perbankan lainnya yang mulai marak digunakan adalah e-banking/m-banking.

Pada tahun 2013, sebuah artikel di kabar harian internasional Wall Street Journal, menyatakan bahwa penyebab pertama kenapa orang Indonesia masih ada yang belum pernah belanja online adalah rendahnya penetrasi kartu debit dan kredit dan ketidakpercayaan konsumen. Data riset dari Nielsen menyatakan bahwa 60% orang Indonesia masih takut untuk memberikan informasi kartu kredit mereka di internet untuk belanja online, lebih besar dari negara-negara di Asia Tenggara kecuali Filipina.

Nampaknya keskeptisan yang timbul di tahun 2013 itu masih berlanjut hingga saat ini. Hal itulah yang menyebabkan hanya sebanyak 18% responden yang menggunakan kartu kredit. Oleh karena itu, akhirnya di Indonesia lebih banyak e-commerce yang menggunakan sistem transfer antar bank dibandingkan dengan pembayaran melalui kartu kredit. Dan hasilnya, angka penjualan di e-commerce pun meningkat. Ketakutan konsumen terhadap sistem pembayaran menggunakan kartu kredit terjawab sudah dengan adanya pilihan transfer ini. Hal inilah yang kemudian membuat konsumen lebih terbuka dengan situs-situs belanja online, terbukti dengan banyaknya konsumen yang mau melakukan transfer sebelum barang datang. Bahkan transaksi ini menjadi transaksi yang paling sering dilakukan.

Tapi meskipun mayoritas menggunakan metode transfer bank, ternyata metode pembayaran di tempat atau COD (Cash On Delivery) adalah metode yang paling disukai. Hal ini tak lain disebabkan karena pembayaran dengan cara ini dinilai paling aman untuk jenis produk tertentu. Sedangkan untuk metode transfer melalui e-banking/m-banking merupakan metode kedua yang paling disukai. Hal ini menunjukkan bahwa dalam bertransaksi online, keamanan merupakan pertimbangan paling utama bagi konsumen. Selain itu juga beberapa responden beralasan kalau metode transfer melalui ATM terlalu repot, sehingga metode COD menjadi pilihan utama bagi mereka yang malas mendatangi ATM.

Selanjutnya, yang akan kita bahas adalah piranti apa sajakah yang digunakan dalam melakukan transaksi belanja online serta kapan saja biasanya konsumen melakukan transaksi ini?

Berdasarkan hasil riset, sebanyak 7 dari 10 responden menggunakan ponsel pintar sebagai piranti andalan dalam mengakses e-commerce. Selain itu juga mayoritas responden lebih menyukai menggunakan piranti ponsel pintar dibandingkan dengan piranti lainnya. Hal ini bisa jadi karena handphone bisa dibawa ke mana saja sehingga untuk mengakses e-commerce pun dapat lebih mudah.

Selain melalui piranti ponsel pintar, desktop/laptop juga media yang masih sering diandalkan para konsumen. Sebanyak 60% responden mengaku menggunakannya sebagai media berbelanja online. Melalui desktop/laptop konsumen memang lebih leluasa dan memang pengaksesan beberapa website pun lebih baik dengan menggunakan piranti ini dibandingkan dengan menggunakan ponsel pintar. Hal ini disebabkan karena belum semua website e-commerce bersifat mobile friendly, di mana masih ada beberapa website yang tampilannya berantakan jika dibuka menggunakan handphone.

Lalu, di manakah biasanya mereka mengakses situs belanja online ini?

Mayoritas responden mengakses situs e-commerce di rumah dengan perolehan persentase sebanyak 70%. Umumnya yang melakukan adalah kalangan muda yang berusia sekitar 18-24 tahun. Sedangkan mayoritas konsumen berusia 25-44 tahun mengakses situs e-commerce di kantor. Sisanya bahkan melakukan transaksi online ini saat di perjalanan.

Kemudahan berbelanja online ini jelas memang tidak terbatas pada tempat. Konsumen bisa melakukan di mana saja, bahkan saat bekerja sekalipun. Tapi semoga para konsumen juga bisa memperhatikan penggunaan waktunya ya. Jangan sampai pekerjaan kantor jadi terlalaikan hanya karena asyik masyuk berbelanja di dunia maya.

Untuk laporan riset selengkapnya, hubungi kami.