Kreativitas Ibu Jadi Rahasia di Balik Masakan Enak

10 May 2017 18:06 FMCG Super Administrator

Kalau hidup ini diibaratkan sebagai sebuah panggung sandiwara, maka seorang ibu adalah aktor yang paling hebat. Tak lain karena ia bisa memerankan apapun. Ia bisa berperan sebagai guru yang mengajarkan pendidikan kepada anak-anaknya bahkan sebelum maupun sesudah mereka menempuh pendidikan formal. Tak ada kata pensiun bagi seorang ibu dalam mengajari anak-anaknya.

Ibu juga berperan sebagai perawat sekaligus dokter di saat salah satu anggota keluarga sakit. Selain itu ia juga bisa berperan sebagai akuntan bagi sang suami, apapun basic pendidikannya, sang ibu pastilah pandai mengatur arus kas keluarganya. Kemudian peran yang tak kalah penting lainnya adalah koki, ibu adalah koki andalan di rumah. Ia mampu mengambil hati suami dan anak-anaknya dan mengalahkan koki-koki ternama sekalipun.

Berbicara soal masakan ibu, seringkali ia menjadi sesuatu yang paling sering dirindukan. Apalagi ketika jauh dari rumah. Misalnya saja saat kita sedang makan di luar, seringkali kita menandingkan kelezatannya dengan masakan di rumah. Lalu tiba-tiba kita teringat dengan masakan rumah, maka dengan akan spontan keluar kata-kata “ah masih enakan makanan rumah”. Kejadian lain misalnya saat kita makan siang bersana rekan kantor, lalu ada seseorang yang membawa bekal dari rumah. Biasanya makanan tersebut akan menimbulkan kerinduan terhadap rumah atau sosok ibu. Hal itulah yang kemudian menyebabkan munculnya istilah “makanan rumahan”. Lalu, apakah yang menjadi rahasia di balik dapur seorang koki terhebat itu?

Riset yang dilakukan oleh Inside.ID menemukan hasil bahwa ternyata, untuk menghasilkan sebuah santapan, perjalanan “memasak” seorang ibu tak selalu mulus dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Riset yang dilakukan dengan metode wawancara mendalam itu mengungkapkan bahwa biasanya akan timbul permasalahan. Sekilas memang memasak terlihat seperti kegiatan yang remeh-temeh, tapi nyatanya tidaklah semudah itu. Dalam proses menciptakan hidangan untuk keluarga tersebut juga akan timbul masalah-masalah. Masalah tersebut biasanya muncul dalam tiga proses awal. Pertama, saat ibu merencanakan apa yang akan dimasak. Kedua, saat mencari resep. Ketiga, saat berbelanja. Mari kita simak masalah apa saja yang timbul serta bagaimana sang ibu dengan kreatif menyelesaikannya.

  1. Saat Perencanaan

Seorang ibu biasanya merencanakan apa yang akan dimasak untuk seminggu ke depan. Mereka akan menyiapkan menu makanan berdasarkan tiga pertimbangan yakni jenis makanan, kesuliatan dalam membuatnya, serta menu yang disukai dan tidak disukai oleh keluarganya.

Berdasarkan hasil riset, dalam proses perencanaan ini, para ibu masih menggunakan metode lama dalam menulis perencanaan yakni menulisnya dengan kertas dan pulpen. Mereka masih belum sadar bahwa beberapa website atau aplikasi bisa membantu mereka untuk merencanakan menu makanan selama seminggu. Tentunya hal itu lebih bisa menghemat waktu.

Selain metode dalam merencanakan menu, hal lain yang menjadi pertimbangan utama adalah rasa dan bahan-bahan yang digunakan. Rasa yang enak adalah pertimbangan paling utama saat ibu merencanakan menu masakan, kemudian diikuti dengan bahan-bahan masakan yang disukai atau tidak disukai oleh keluarga. Dalam hal ini mereka harus lebih berhati-hati dalam memilih menu. Selain itu juga nutrisi serta kalori yang terdapat dalam menu makanan menjadi pertimbangan lainnya.

Salah satu responden menuturkan bahwa suaminya alergi udang dan anaknya juga tidak suka dengan ikan. Hal tersebut menjadi pertimbangan paling penting saat ia merencanakan menu makanan setiap minggunya. Jadi, masalah utama yang harus dipecahkan oleh sang ibu adalah menyusun menu yang tepat bagi keluarganya. Ini artinya mereka harus lebih cermat dalam menentukan apa yang mereka masak.

  1. Saat pencarian resep

Proses selanjutnya setelah menentukan apa yang akan dimasak adalah proses pencarian resep, khususnya bagi ibu muda hal ini sangatlah membantu. Mengingat pengalaman mereka dalam memasak masih sangat minim. Mereka membutuhkan resep sebagai penuntun, entah itu sebagai petunjuk mengenai bahan-bahan yang digunakan maupun bagaimana cara memasaknya.

Biasanya yang dilakukan adalah dengan browsing melalui internet. Mereka lebih menyukai resep-resep yang direkomendasikan oleh orang lain, karena artinya resep tersebut sudah terbukti. Dalam proses ini, seorang ibu harus menemukan cara terbaik untuk membuat masakannya. Berdasarkan riset, ditemukan tiga hal penting dalam proses ini.

Pertama, bagi para ibu resep yang terbaik adalah resep yang paling sering direkomendasikan dan telah terbukti. Mereka juga semakin percaya ketika resep tersebut telah banyak dicoba oleh ibu lainnya. Hal ini tak lain karena mereka yakin bahwa resep yang diberikan oleh seorang ibu adalah resep yang paling bisa diandalkan.

Kedua, resep yang dijelaskan dengan detail akan sangat membantu para ibu. Umumnya, para ibu muda yang dikategorikan sebagai pemula ini akan mencari resep masakan sebagai referensi baik melalui internet maupun melalui buku. Berhubung mereka terbilang masih kurang pengalaman, masih banyak hal yang belum mereka pahami karena biasanya bahasa di dalam resep-resep sangat singkat dan tidak ada penjelasan mendalam. Misalnya saja saat ada menu masakan yang menggunakan bahan bawang, tidak dijelaskan bagimana bawang itu harus diolah. Apakah bawang tersebut harus dimasak bulat-bulat, dicacah, diiris kecil-kecil, atau mungkin diulek halus. Nah, maka dari itu saat mem-browsing mereka sangat membutuhkan penjelasan yang mendetail mengenai menu masakan yang akan mereka buat.

Kemudian yang terakhir adalah pencarian yang dilakukan berdasarkan bahan-bahan makanan lebih bermanfaat dibandingkan harus menghitung jumlah kalori dalam setiap menu. Hal ini disebabkan karena, para ibu cenderung memasak berdasarkan bahan apapun yang mereka punya. Jadi untuk mengatasinya, mereka lebih baik mencari di internet berdasarkan bahan-bahan utama. Jadi mereka bisa memilih resep yang cocok dan sesuai dengan kondisi mereka.

  1. Saat berbelanja bahan masakan

Tahap selanjutnya adalah membeli bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan menu yang telah mereka rencanakan. Nah, dalam tahapan ini permasalahan yang biasanya muncul adalah; lupa membeli beberapa bahan dan seringkali salah memperhitungkan bahan-bahan yang akan digunakan selama seminggu ke depan.

“Hal itu sering terjadi ketika saya merencanakan menu masakan yang berbeda dari biasanya. Misalnya masakan Prancis atau Itali, saya biasanya lupa membeli karena tidak akrab dengan bahan-bahannya”. Tutur salah satu responden yang sering lupa membeli beberapa bahan.

Kemudian responden lainnya mengaku bahwa ia menghitung bahan-bahan berdasarkan instingnya saja. Dan biasanya hal itu malah membuat ia kehabisan bahan di pertengahan minggu.

Nah, pada proses ini. Permasalahan yang timbul akan menentukan menu makanan yang mereka buat. Setelah membeli bahan-bahan, sang ibu akan mengecek kembali bahan-bahan tersebut. Kalau bahan yang mereka butuhkan sudah lengkap, maka mereka akan memasak sesuai dengan menu makanan yang sudah direncanakan pada tahap sebelumnya. Tapi, jika bahan yang dibeli tidak lengkap, di sinilah kreativitas seorang ibu bekerja. Ia akan memasak menu lain sesuai dengan bahan yang ia miliki.

“Terkadang saya merencanakan menu mingguan. Tetapi karena saya lupa membeli salah satu bahan, maka saya harus mengubah menu dan memasak apa yang saya bisa buat dari menu-menu yang tersedia”, tutur seorang responden. Dan hal tersebut juga dilakukan oleh responden lainnya yang mengaku sering kehabisan menu di pertengahan minggu.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa untuk menyajikan hidangan lezat bagi keluarganya, seorang ibu akan melewati proses yang cukup panjang dan memerlukan pertimbangan yang begitu cermat. Tapi tak hanya kecermatan yang dibutuhkan, buktinya meski sudah cermat dalam merencanakan menu dan bahan-bahan, masalah lainnya yang akan muncul –saat berebelanja- bisa merusak perencanaan sang ibu. Namun hal itu ternyata bisa diatasi dengan mudah. Tidak mesti terpaku dengan perencanaan, sang ibu dengan kreatif melakukan improvisasi sehingga menghasilkan menu makanan meski di tengah-tengah keterbatasan. Wah, ternyata seorang ibu benar-benar luar biasa ya.