Mungkinkah Celengan Dimuseumkan?

15 May 2017 11:19 Financial Super Administrator

Masih ingatkah Anda dengan celengan ayam? Ya, siapa yang tidak tahu benda ini. Pada zaman dahulu celengan ayam ibarat pundi uang yang dipenuh harapan. Ia berfungsi tak hanya sebagai tempat menyimpan uang, tapi juga penolong di saat-saat darurat. Siapa sangka dengan menyimpan sekoin dua koin, ia bisa begitu bermanfaat saat kita memecahkannya.

Menurut sejarah, di Indonesia celengan sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit atau sekitar abad ke-15. Hal itu dibuktikan dari penemuan sebuah celengan berbentuk babi yang terbuat dari tanah liat di Trowulan, Jawa Timur. Temuan masa klasik tersebut membuktikan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia sudah mengenal tradisi menabung.

Celengan menjadi benda yang cukup sakral pada masa-masa silam. Mungkin “kesakralannya” disebabkan karena pada masa itu celengan hanya terbuat dari tanah liat, sehingga satu-satunya cara untuk mengambil uang adalah dengan memecahkan celengan tersebut. Jadi, sebisa mungkin celengan itu dipecahkan hanya dalam keadaan yang “sangat-amat-darurat”.

Kini, kebiasaan tersebut tinggallah sejarah. Rasanya sudah sangat jarang kita temukan orang dewasa yang menyimpan uang di celengan. Celengan ayam itu kini sudah tergantikan dengan sebuah tempat bernama “bank”. Ya, bank!

Mayoritas masyarakat kini lebih percaya untuk menyimpan uangnya di bank dibandingkan di celengan. Selain segi keamanan yang dirasa lebih terjamin, bank juga lebih memudahkan kita dalam bertransaksi. Misalnya saja saat berpergian jauh, dengan fasilitas kartu ATM kita jadi tak perlu repot-repot membawa uang cash dalam jumlah yang banyak.

Begitu juga yang diakui oleh 93% dari 740 responden yang disurvei Inside.ID, saat ini mereka lebih percaya untuk menyimpan uangnya di bank. Melihat fakta tersebut, rasanya celengan benar-benar menjadi benda historikal yang mulai ditinggalkan. Ya meskipun tidak begitu bagi anak-anak. Mengapa? Karena tak sedikit juga orang tua yang masih menjadikan celengan sebagai latihan menabung bagi anak-anaknya. Itupun harus dengan bentuk celengan yang lucu dan menarik. Sedangkan bagi orang dewasa, kebiasaan mengisi lubang celengan kini sudah bergeser menjadi kebiasaan menyimpan uang di bank.

Bank pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1828, bernama De Javasche. Sejarahnya di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Di masa kemerdekaan, perbankan di Indonesia bertambah maju dan terus berkembang. Kini keberadaan bank di Indonesia setidaknya bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu; bank milik negara, swasta, dan asing. Lalu, bank apakah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat?

Berdasarkan hasil riset, bank BCA merupakan bank yang paling banyak digunakan oleh responden (61%), kemudian disusul dengan bank Mandiri (49%), bank BRI (31%), dan seterusnya. Selain itu, sebanyak 39% responden menggunakan bank BCA sebagai rekening utama, dan sebanyak 21% menggunakan bank Mandiri sebagai rekening utama. Mengapa dikatakan “rekening utama”? karena ternyata, sebagian besar responden memiliki lebih dari satu rekening bank!

Sebanyak 36% responden mengaku memiliki 2 rekening tabungan di bank. Mereka didominasi oleh orang-orang yang berusia 45-54 tahun. Berbeda dengan responden yang berusia “tua”, sebesar 32% responden yang umumnya didominasi kaum muda berusia 18-24 tahun mengaku hanya memiliki satu rekening saja.

Tak perlu heran dengan mereka yang memiliki dua buah rekening tabungan, masih ada sekitar 21% responden yang memiliki tiga buah rekening, 6% memiliki empat buah rekening, 3% memiliki lima buah rekening, dan menakjubkannya ditemukan sejumlah 2% responden yang mengaku memiliki rekening tabungan lebih dari lima.

Wah, nampaknya masyarakat Indonesia memang telah benar-benar beralih ke bank untuk menyimpan uangnya ya. Lalu, mungkinkah kelak celengan hanya menjadi benda langka pelengkap museum saja? Tapi meskipun begitu tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran bank tak terlepas dari celengan. Konsepnya keduanya tetap sama, tempat untuk menyimpan uang!

Untuk laporan riset selengkapnya, hubungi kami.