Rumah Tanah Masih Menjadi Incaran Utama di Tengah Menjamurnya Apartemen

15 May 2017 12:00 Financial admin

Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Ia menjadi tempat berlindung, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga. Secara psikologis, kehadiran rumah mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan mampu menjamin seseorang dalam menikmati kehidupannya.

Seiring dengan jumlah masyarakat yang kian bertambah, maka kebutuhan akan hunian pun semakin meningkat. Sayangnya peningkatan kebutuhan itu tidak selaras dengan ketersediaan lahan, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Untuk itu pemerintah menyiasatinya dengan membangun hunian vertikal yang mampu menampung banyak orang. Nah, kalau pemerintah membangun rusun yang notabenenya ditujukan untuk golongan menengah ke bawah, para developer atau pengembang juga turut berinovasi dengan membangun apartemen-apartemen mewah.

Berdasarkan data yang dilansir dari Wikipedia, jumlah apartemen di Indonesia terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2013 tercatat ada sekitar 15.068 unit apartemen baru di Jakarta. Di tahun 2014 ada 20.889 apartemen, dan di tahun 2015 ada 24,854 apartemen baru yang berdiri di Jakarta. Selain di kota Jakarta, pembangunan apartemen di Surabaya juga terus mengalami peningkatan. Berdasarkan survei Colliers Internasional Indonesia, jumlah apartemen yang terdapat di Surabaya pada tahun 2015 mencapai lebih dari 25.000 unit.

Dalam sejarahnya, apartemen sudah berada di Indonesia sejak 1978, tepatnya di wilayah Jakarta Barat. Akan tetapi penyerapan tertinggi unit apartemen di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi pada tahun 2012. Survei Colliers Internasional Indonesia menyebutkan bahwa terjadi kenaikan penyerapan unit apartemen sebesar 82,2%. Menurut rumah.com, ini adalah penyerapan tertinggi sepanjang sejarah pembangunan apartemen.

Sedangkan untuk rumah susun sendiri sudah dimulai di Indonesia sejak tahun 1980. Berawal dari didirikannya rumah susun di wilayah Tanah Abang Jakarta kemudian menyebar ke berbagai kota seperti kota Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan kota lainnya.

Tak hanya pembangunan apartemen, pembangunan rumah susun pun sedang digencarkan pemerintah sebagai upaya penuntasan pemukiman-pemukiman kumuh di perkotaan. Tahun ini saja, Pemprov DKI menargetkan pembangunan rumah susun sebanyak 20.000 unit. Sedangkan untuk wilayah lainnya, Pemerintah RI mencanangkan 1000 tower rusun di 10 kota besar di Indonesia. Waw!

Akan tetapi, meskipun pembangunan hunian vertikal sudah begitu digencarkan, nyatanya kehadiran mereka tak bisa menggeser keberadaan rumah tanah loh! Hal ini terbukti dari hasil riset yang dilakukan oleh Inside.ID selama bulan Februari sampai Juni 2016 lalu.

Dari 246 responden, ternyata hanya 4% saja yang saat ini menempati rusun dan apartemen. Ini artinya hampir seluruh responden menempati rumah tanah sebagai hunian mereka saat ini.

Kalau kita lihat berdasarkan lamanya mereka menempati hunian, responden penghuni rusun (rusun, rusunami, rusunawa) mayoritas baru menempatinya selama 1-3 tahun. Sedangkan untuk hunian apartemen, mayoritas mengaku sudah menempatinya sekitar 4-6 tahun. Berbeda dengan rumah tanah, sebagian besar sudah menempatinya lebih dari enam tahun. Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa penghuni rumah tanah masih lebih banyak dibandingkan dengan hunian-hunian vertikal. Perasaan aman dan nyaman yang mereka rasakan selama ini rupanya tak semudah itu digantikan dengan hunian-hunian bergedung tinggi.

Setelah mengetahui jenis tempat tinggal dan lamanya mereka menempati hunian tersebut, selanjutnya kita akan membahas bagaimana status kepemilikan hunian yang mereka tempati.

Ternyata, walaupun mayoritas responden mengaku menempati rumah tanah, hanya 45%nya saja loh yang berstatus atas nama mereka sendiri. Sisanya 34% kepemilikan orangtua, 20% merupakan rumah sewa/kontrak/kost, dan 3%nya merupakan fasilitas kantor. Sedangkan untuk rumah susun, semuanya merupakan sewa/kontrak/kost. Kemudian untuk status kepemilikan apartemen, 75%nya atas nama pribadi dan 25% lainnya atas nama orangtua.

Uniknya, meski sudah banyak yang memiliki hunian atas nama pribadi (apartemen 75%, rumah tanah 45%), ternyata banyak juga loh di antara mereka yang sedang mencari hunian lainnya saat ini.

Dari data di atas, bisa kita lihat ternyata 65% responden mengaku kalau mereka sedang mencari hunian saat ini. Mungkin hal ini wajar-wajar saja bagi responden yang belum memiliki hunian atas nama pribadi, tapi bagaimana dengan mereka yang sudah memilikinya? Kira-kira apa ya alasan mereka masih mencari hunian? Tunggu jawabannya di artikel Inside.ID berikutnya!