Solusi dari Lemahnya Memanajemen Keuangan

15 May 2017 11:21 Financial Super Administrator

Tak ada yang bisa mengelak kalau tanggal muda menjadi hari yang paling cerah bagi para pekerja. Saat yang paling indah adalah ketika kita tersenyum puas melihat nominal di layar ATM. Semua peluh, lelah, dan penat selama sebulan penuh serasa luluh bersamaan dengan kehadiran si nominal tadi.

Tapi sayangnya bagi sebagian besar orang, sang tanggal muda sulit bertahan lama dan cepat digantikan oleh si tanggal tua. Dalam hal ini, kesalahan memanajemen keuangan sering kali berdampak pada kegamangan di akhir bulan. Di masa-masa itulah kegelisahan kembali menggelayuti para pekerja.

Setiap orang memiliki strategi yang berbeda dalam mengatur keuangannya. Ada yang membuat rencana pengeluaran, ada yang menyisihkan untuk menabung atau berinvestasi, dan ada juga yang langsung menyetorkannya kepada orang yang lebih dipercaya dalam mengatur keuangan, misalnya kepada orang tua (bagi yang belum menikah) atau kepada istri (bagi yang sudah menikah). Menariknya, Inside.ID menemukan satu cara yang cukup unik dalam mengatur keuangan, yaitu dengan memiliki lebih dari satu rekening.

Riset yang dilakukan oleh Inside.ID berhasil mengungkapkan bahwa sebanyak 68% dari 693 responden memiliki lebih dari satu rekening tabungan di bank. Sebanyak 36% responden mengaku memiliki 2 rekening tabungan di bank (didominasi oleh orang-orang berusia 45-54 tahun), 21% responden mengaku memiliki 3 rekening tabungan, bahkan 2% responden memiliki lebih dari 5 buah rekening tabungan. Sedangkan, responden yang hanya memiliki satu buah rekening tabungan hanya sebanyak 32% yang didominasi kaum muda berusia 18-24 tahun.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa setidakya 7 dari 10 responden memiliki tidak hanya satu buah rekening saja, bahkan sampai ada yang memiliki 5 buah rekening. Fenomena ini membuktikan bahwa sepertinya masyarakat kita kurang percaya diri dengan hanya memiliki satu rekening saja. Ya, kurang percaya diri.

Masyarakat Indonesia tercatat sebagai negara paling konsumtif nomor empat se-Asia-Pasifik berdasarkan data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012. Bahkan menurut Hendry Bastaman, Deputi Bidang Kelembagaan dan Peningkatan Kapasitas Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Indonesia tercatat sebagai pembeli seperempat lebih dari jumlah produksi sebuah ponsel pintar. Wow, sifat konsumtif masyarakat Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi.

Pola hidup konsumtif tersebut menyebabkan masyarakat sering menghamburkan uang dan menjadi lemah dalam memanajemen keuangan. Itulah mengapa dikatakan masyarakat kurang percaya diri dengan satu rekening saja, dan akhirnya mencoba menyiasatinya dengan memiliki lebih dari satu rekening.

Apa implikasinya? Memiliki lebih dari satu buah rekening berimplikasi pada penempatan-penempatan keuangan yang lebih terarah dan terorganisir. Sehingga, secara tidak langsung masyarakat sedang berupaya dalam mengontrol sikap konsumtif mereka. Ya meskipun pada akhirnya tidak melulu berhasil. Ibarat genetik, konsumtif sudah menjadi warisan turun temurun. Butuh tekad serta komitmen yang tinggi untuk benar-benar lepas dari hal tersebut.

Tapi tunggu dulu, riset ini juga berhasil menemukan motivasi atau alasan di balik banyaknya rekening yang mereka miliki. Nah, setelah itu baru bisa kita simpulkan apakah benar masyarakat Indonesia lemah dalam mengatur keuangan.

Dihadapkan pada jumlah rekening tabungan yang cukup banyak (lebih dari satu), mungkin kita akan berkesimpulan bahwa masyarakat Indonesia cukup piawai dalam menabung. Tapi, nyatanya dari sekian banyak responden yang memiliki jumlah rekening tabungan lebih dari satu, hanya 19% responden yang memiliki alasan “menabung”. Cukup sedikit bukan? Hanya sekitar 1 dari 5 orang saja. Kemudian apakah yang menjadi alasan utama?

Alasan utama di balik kepemilikan lebih dari satu rekening adalah untuk memisahkan rekening pribadi dengan rekening penerimaan gaji. Alasan tersebut didominasi sebanyak 39% responden yang mana diungguli oleh kaum pria (41%). Hal ini nampaknya dilakukan agar mereka mampu mengontrol keuangan mereka, sehingga rekening yang digunakan sebagai tempat menerima gaji tidak diotak-atik lagi oleh pengeluaran pribadi. Entah agar uang itu lebih aman –dari pengeluaran pribadi-, atau bisa jadi ini salah satu cara lain dari “menabung”.

Alasan berikutnya adalah untuk memisahkan rekening pribadi dengan rekening bisnis (26%), alasan ini masih didominasi oleh pria sebanyak 28%. Seperti yang dilansir oleh mengaturkeuangan.net rekening pribadi mestilah dipisahkan dengan rekening bisnis. Hal ini dilakukan agar kita bisa mengetahui apakah bisnis tersebut mendatangkan keuntungan atau kerugian. Sekecil apapun bisnis yang kita miliki, cara yang satu ini cukup penting sebagai pertimbangan apakah bisnis tersebut harus dilanjutkan atau tidak.

Selanjutnya sebanyak 19% responden mengaku memiliki rekening banyak sebagai tempat khusus untuk menabung. Alasan ini didominasi oleh kaum wanita sebanyak 20%. Nampaknya kaum wanita memang lebih unggul dalam hal menabung. Bahkan dalam Global Findex yang diluncurkan oleh Bank Dunia pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa wanita dapat lebih berpartisipasi dalam perekonomian karena kepiawaiannya menyisihkan uang untuk dana darurat, biaya sekolah, atau untuk memulai bisnis.

Kemudian untuk alasan lainnya sebanyak 12% adalah sebagai keperluan dana investasi, deposito, reksadana, dan lain-lain. Dan sisanya 5% mengaku alasan memiliki lebih dari satu rekening adalah untuk keperluan membuka kartu kredit di bank lain.

Nah, berdasarkan alasan-alasan di atas dapat kita simpulkan bahwa seiring dengan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh juga pada pengelolaan keuangan yang mesti ekstra hati-hati. Oleh karena itulah dibutuhkan lebih dari satu rekening untuk dapat mengatur plot-plot keuangan yang jelas dan tepat. Jadi, meski masyarakat kita cukup konsumtif, nampaknya memiliki lebih dari satu rekening ini cukup ampuh dalam mendisiplinkan keuangan mereka ya.

Untuk laporan riset selengkapnya, hubungi kami.