Artikel

Penulis ,
Bahagia itu sederhana
Hanya dengan melihat senyummu
Ketika dunia mengacuh
Kita bercanda tertawa bersama
Sederhana~
Lirik di atas adalah petikan lagu Bahagia Itu Sederhana yang dibawakan oleh Wina Natalia feat. Abdul Coffee Theory. Fenomena bahagia yang sederhana memang sedang menjamur di masyarakat. Tak jarang masyarakat mem-­posting hal-hal kecil yang mereka lakukan sebagai sebuah kebahagiaan. Misalnya saja sepasang kekasih yang sedang berlibur, mahasiswa atau pelajar yang mendapat nilai bagus, bahkan, sehabis memakan ketoprak pun bisa dikatakan sebagai kebahagiaan yang sederhana.
Tapi, benarkah bahagia sesederhana itu?
Pada tahun 2013, sebuah lembaga riset Ipsos melakukan penelitian mengenai indeks kebahagiaan di seluruh dunia. Riset itu dilakukan berdasarkan beberapa faktor. Pertama adalah faktor usia, kemudian sosial-ekonomi yang di dalamnya mencangkup pendidikan dan pendapatan, serta yang terakhir adalah status pernikahan. Riset itu menunjukkan hasil yang sangat mencengangkan, di mana Indonesia memegang peringkat pertama dari 24 negara dengan indeks kebahagiaan sebesar 55%.
Peringkat tersebut bahkan jauh melebihi kebahagiaan di negara-negara maju seperti Cina (10%) dan Korea Selatan (6%). Apakah hal ini berarti bahwa kemajuan suatu negara tidak berbanding lurus dengan indeks kebahagiaan masyarakatnya? Entahlah, yang jelas Ipsos sendiri berpendapat bahwa respon positif yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia ini telah menunjukkan kepada dunia bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.
Melihat fenomena tersebut, Inside.ID kemudian melakukan riset serupa pada bulan Mei lalu terhadap 250 responden di seluruh Indonesia. Berbeda dengan riset yang dilakukan oleh Ipsos, Inside.ID melakukan penelitian berdasarkan OxfordHappiness Questionaire.
Oxford Happiness Questionaire adalah alat ukur kebahagiaan yang dikembangkan oleh Michael Argyle dan Peter Hills dari Universitas Oxford. Hasil kuesioner tersebut akan menghasilkan skala kebahagiaan mulai dari 1 sampai 6. Skala 1-2 mengindikasikan tidak bahagia dan skala 5-6 mengindikasikan terlalu bahagia. Berikut hasilnya:


Secara umum, hasil riset tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cukup bahagia. Hal ini ditunjukkan dengan skor sebesar 4.6 yang artinya mereka merasa cukup bahagia saat ini. Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan indeks kebahagiaan yang sama pula.


Bisa terus bersama dengan orang yang kita cintai merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Nah, menikah adalah salah satu cara agar bisa terus bersama. Tetapi ternyata sudah menikah ataupun belum tidak ada bedanya. Keduanya memiliki tingkat kebahagiaan yang sama dengan indeks sebesar 4,6. Bagi yang belum menikah, mereka belum memiliki beban tanggunggan sehingga mereka merasa bahagia. Namun, ternyata menanggung beban bersama pun merupakan hal yang membuat seseorang bahagia. Tetapi hal tersebut berbeda dengan mereka yang mengalami perceraian, indeks kebahagiaan mereka jauh lebih kecil, yaitu sebesar 4,1. Bisa jadi ini disebabkan karena kesepian yang mereka rasakan.


Masa muda yang dijuluki sebagai masa yang berapi-api oleh pedangdut Rhoma Irama ternyata merupakan masa yang cukup bahagia. Terbukti dari hasil riset, orang yang berusia 18-24 tahun menunjukkan indeks kebahagiaan sebesar 4,7. Para remaja memang sedang bahagia-bahagianya di usia ini. Tak ada beban yang mereka pikirkan. Beban terberat biasanya hanya sekadar tugas kuliah dan hubungan-hubungan percintaan yang penuh konflik. Namun, berbeda dengan para remaja, mereka yang berusia 25-34 tahun biasanya mulai terjebak dalam rutinitas kerja yang itu-itu saja dari hari ke hari. Sehingga mereka yang berada pada usia ini memiliki indeks kebahagiaan yang lebih rendah, yaitu sebesar 4,0.
Nah, yang paling mencengangkan adalah, meski usia remaja mengaku cukup bahagia, kebahagiaan mereka ternyata dikalahkan jauh oleh orang yang berusia tua, yakni sekitar 55-64 tahun dengan indeks kebahagiaan sebesar 5,1. Indeks sebesar 5,1 ini artinya mereka merasa sangat bahagia. Usia ini bisa dikatakan sebagai usia mapan, di mana mereka mulai menyambut hari tua dengan menikmati hasil kerja keras mereka. Nampaknya peribahasa lama berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian cocok untuk menggambarkan mereka ya.