Artikel

Penulis ,
A: Guys, aku udah sampai di cafe-nya ya.
B: Iya, aku masih otw.
C: Me too. Tungguin ya please.
Pernahkah Anda terlibat dalam percakapan seperti di atas? Atau malah terlibat dalam percakapan di bawah ini?
A: Teman-teman, aku sudah sampai di kedai kopinya ya.
B: Iya, aku sedang dalam perjalanan.
C: Aku juga. Tolong tunggu aku.
Rasanya kita lebih sering terlibat dalam percakapan pertama ya dibanding percakapan kedua yang terkesan lebih baku dan kaku. Nah, hal tersebut merupakan salah satu contoh campur kode yang merupakan hasil dari kontak bahasa, tentunya kontak bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat multilingual. Itu artinya bahasa Indonesia bukanlah satu-satunya bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Ada banyak bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh sebagian orang. Ada juga bahasa asing, misalnya bahasa Inggris yang merupakan salah satu hasil dari pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang paling sering digunakan. Selain karena bahasa ini merupakan bahasa internasional, nampaknya bahasa Inggris juga memiliki prestise yang cukup tinggi di kalangan masyarakat. Misalnya saja, pada umumnya masyarakat lebih senang menggunakan kata thanks atau thank youdibandingkan terima kasih. Bahkan di industri-industri kreatif pun, bahasa Inggris mulai memiliki pamor yang cukup tinggi, misalnya dalam judul-judul film, buku, bahkan kata-kata di dalam iklan. Contoh nyata lainnya, semisal penyebutan sebuah acara dialog di televisi lebih umum digunakan kata talkshow, bukan telewicara.
Berbicara menggunakan bahasa Inggris pun mulai menjadi hobi. Biasanya di kalangan remaja lebih bangga cas-cis-cus pakai bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Bahkan biasanya di dalam buku tahunan sekalipun, moto hidup yang ditampilkan di setiap biodata lebih senang menggunakan bahasa Inggris. Apalagi di akun-akun media sosial, cas-cis-cus dengan bahasa Inggris sudah jadi santapan umum.
Tetapi bagi sebagian orang, fenomena penggunaan bahasa Inggris ini dipandang sebagai ajang gaya-gayaan saja. Ajang untuk unjuk gigi dan pada akhirnya dianggap sebagai masyarakat yang tidak nasionalis, masyarakat yang melupakan bahasanya sendiri. Namun, riset yang dilakukan oleh Inside.ID menjawab semua tudingan terhadap penggunaan bahasa Inggris itu sendiri. Berikut adalah hasil riset yang dilakukan oleh Inside.ID terhadap 273 responden di seluruh Indonesia pada Maret-Mei lalu mengenai bahasa yang digunakan dalam membaca berita.


Riset tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 58% responden mengonsumsi berita atau artikel bahasa Inggris. Ini berarti bahwa bahasa Inggris sudah menjadi prioritas kedua bagi masyarakat. Jadi, tidak hanya cas-cis-cus pakai bahasa Inggris saja, tetapi masyarakat telah melangkah pada tahap penguasaan bahasa Inggris yang lebih maju lagi. Media-media asing seperti Times, BBC, Bloomberg, dan media asing lainnya yang mulai meramaikan Indonesia bisa jadi merupakan salah satu alasan masyarakat Indonesia mengonsumsi berita-berita berbahasa Inggris. Jadi, bukan sekadar gaya-gayaan saja loh.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Education First (EF), sebuah lembaga kursus bahasa Inggris, pada tahun 2014 English Proficiency Index (Indeks Kecakapan Bahasa Inggris) masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke-28 di antara 63 negara di dunia. Peringkat ini bahkan terpaut tipis dari Korea Selatan dan Jepang yang masing-masing menempati posisi 24 dan 26. Wah, masih berani bilang kalau bahasa Inggris kita cuma gaya-gayaan?
Lukman Ali ?mantan Kepala Pusat Bahasa- sempat mengkhawatirkan kalau-kalau masuknya bahasa Asing, khususnya bahasa Inggris ini akan merusak bahasa Indonesia. Namun sepertinya kekhawatiran itu harus kita sikapi dengan lebih positif lagi. Kedatangan bahasa Asing bukanlah untuk merusak bahasa Indonesia, tetapi untuk semakin mencerdaskan kehidupan bangsa agar kelak kita mampu bersaing dengan dunia.
Riset yang dilakukan oleh Inside.ID juga telah membuktikan, meskipun bahasa Inggris mulai mendapat perhatian yang cukup tinggi, itu tidak menyebabkan menurunnya minat baca terhadap berita-berita berbahasa Indonesia. Dibuktikan bahwa seluruh responden masih tetap memilih berita berbahasa Indonesia.
Tentunya hal tersebut patut kita banggakan. Meski masyarakat mulai terbuka dengan perkembangan bahasa, itu tidak berarti kalau masyarakat mulai melupakan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Jadi, meski kita bangga menggunakan bahasa Inggris, tentunya kita harus lebih bangga lagi dong dengan bahasa Indonesia.