Artikel

Penulis ,
Dari masa ke masa, makan dan minum merupakan kebutuhan primer yang tak bisa ditanggalkan. Seiring dengan kebutuhan itu pulalah industri makanan dan minuman terus meningkat dari tahun ke tahun. Kehadirannya kian marak demi memenuhi kebutuhan yang paling krusial ini. Inovasi pun terus dilakukan demi menarik konsumen. Selain memperbaiki kualitas produk, cara lain yang terus diperbarui adalah media promosi.
Media promosi merupakan alat terjitu untuk memperkenalkan suatu produk, salah satunya adalah iklan. Iklan atau promosi hadir pertama kali di Indonesia sekitar tahun 1744 dan diperkenalkan pertama kali oleh Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jendral Belanda pada tahun 1619-1629. Coen merupakan penerbit surat kabar Bataviasche Nouvelle, di mana surat kabar ini juga merupakan surat kabar pertama di Indonesia.
Pada masa itu, iklan sebuah produk ditampilkan di salah satu lembar koran. Memang benar bahwa mulanya iklan dikenalkan oleh bangsa Belanda, tapi lambat laun bangsa kita sendiri yang kemudian mengembangkan industri promosi ini.


Pada akhir tahun 1940-an, mulailah periklanan masuk ke media televisi komersial. Media iklan di televisi ini masih marak hingga sekarang. Berbagai model iklan mulai dari iklan yang memaparkan kelebihan produk, sampai iklan yang menampilkan cerita-cerita pendek yang tak jarang menginspirasi penonton.
Kalau biasanya sebuah iklan mampu menarik pembeli dengan tampilan produk yang mengesankan, berbeda dengan iklan soft drink yang umumnya lebih menampilkan momen-momen indah. Riset yang dilakukan Inside.ID terhadap responden yang berusia 16-22 tahun di Jabodetabek mengungkapkan hasil bahwa momen yang digambarkan dalam iklan soft drink akan memengaruhi keinginan konsumen untuk membeli produk tersebut. Momen tersebut terekam di kepala konsumen dan berhasil menancapkan brand image yang berkesan.
Iklan tersebut akan sangat memengaruhi konsumen. Ketika sebuah momen ditampilkan dalam iklan, mereka akan mencoba untuk mengikuti hal yang sama. Dan mereka akan menghubungkan momen tersebut dengan merk soft drink yang sesuai.


Misalnya saja produk minumanCoca-Cola yang berhasil mengasosiakan mereknya dengan citra kebersamaan. Hal tersebut menanamkan kebiasaan kepada konsumen bahwa kehadiran Coca-Cola sangat tepat untuk momen berkumpul bersama, baik keluarga maupun kerabat. Hal ini tak lain karena dalam iklan-iklan Coca-Cola umumnya yang ditampilkan adalah momen kumpul bersama keluarga atau kerabat.
Pada tahun 2004, Coca-Cola dinobatkan sebagai iklan paling efektif berdasarkan survei yang dilakukan TV Ad Monitor MRI. Coca-Cola selalu memanfaatkan momentum tertentu. Misalnya saat momen lebaran, Coca-Cola hadir dengan desain botol yang menuliskan ucapan ?Selamat Idul Fitri?. Hal ini berhasil memikat loyalitas konsumen terhadap produk yang tak hanya menjadi pelepas dahaga, tapi juga menciptakan momen kebersamaan dengan keluarga. Bahkan, akhir-akhir ini Coca-Cola hadir dengan ide menuliskan nama pada bagian botol atau kaleng Coca-Cola. Hal itu tentunya semakin menarik konsumen karena membuat konsumen menjadi sangat berkesan saat nama mereka tertera di botol Coca-Cola.
Selain Coca-Cola, ada juga produk Sprite yang diasosiasikan dengan kesegaran. Sprite menjadi minuman yang identik dengan kesegaran di saat hari panas. Itu disebabkan oleh gambaran-gambaran dalam iklan Sprite, selalu bercerita tentang suasana yang sangat panas hingga akhirnya mereka meminum Sprite. Lalu lokasi tersebut berubah menjadi kolam renang dan mereka meloncat ke dalam kolam tersebut. Maka citra yang menempel pada Sprite adalah minuman yang tepat saat cuaca begitu teriknya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pesan yang disampaikan iklan terhadap terciptanya citra merksoft drink. Konsumen akan menyerap informasi berdasarkan gambaran momen dan menghasilkan citra terhadap produk itu sendiri.


Perusahaan-perusahaan minuman semakin sadar bahwa merk adalah aset terbesar. Oleh karena itu mereka tak ragu-ragu dalam mengeluarkan biaya promosi yang cukup tinggi. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan seorang sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan minuman berkarbonasi mengeluarkan berpuluh-puluh milyar untuk mempromosikan produknya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan soft drink tidak main-main dalam mempromosikan produknya. Tapi hal itu tentunya tidak sia-sia, karena pada akhirnya mereka berhasil mengambil hati para konsumen. Karena pada dasarnya adalah, kita akan menuai apa yang kita tabur. Begitu pula dengan para perusahaan soft drink itu ya.