Artikel

Penulis ,
Pekan Raya Jakarta (PRJ) adalah festival tahunan terbesar di Indonesia. Festival ini berlangsung setahun sekali tiap pertengahan Juni sampai dengan pertengahan Juli. Festival ini sudah cukup lama berlangsung di Jakarta. Mulanya PRJ ini berlangsung di Monas, tepatnya tanggal 5 Juni 1968 yang diresmikan oleh Presiden Suharto. PRJ ini pertama kali disebut DF atau Djakarta Fair (ejaan lama). Namun lambat laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair, dan kemudian lebih popular saat ini dengan sebutan Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Ide mengenai festival ini pertama kali muncul dari Syamsudin Mangan, Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) pada masa itu. Hal tersebut bertujuan sebagai ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri. Ide tersebut sejalan juga dengan keinginan Pemerintah DKI untuk membuat sebuah pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama. Selain itu juga saat itu pemerintah DKI Jakarta ingin menyatukan berbagai pasar malam yang ketika itu tersebar di sejumlah wilayah Jakarta seperti ?Pasar Malam Gambir?.
PRJ 1968 atau DF 68 saat itu berjalan dengan lancar dan dapat dikatakan sukses. Festival tersebut berhasil memikat sebanyak 1,4 juta pengunjung. Saat ini PRJ tidak lagi diselenggarakan di Monas, melainkan dilangsungkan di JIEXPO Kemayoran. PRJ era modern ini mangalami peningkatan signifikan dalam hal penjualan dan pengunjung, dibandingkan dengan PRJ 1968. Lalu, apa sajakah yang mendorong kesuksesan besar PRJ? Inside.ID melakukan riset pada PRJ 2015 dan berhasil menemukan hal-hal di balik kesuksesan pesta rakyat tahunan ini.

Alasan utama mengunjungi PRJ
Umumnya, alasan utama seseorang mengunjungi PRJ adalah untuk membeli sesuatu. Festival ini memang terkenal dengan pameran yang menjajakan barang-barang yang variatif dengan harga yang menarik. Maka tak heran kalau hasil riset ini menemukan lebih dari setengah atau sebanyak 53% responden memiliki alasan datang ke PRJ untuk membeli sesuatu.
Tak hanya itu, 28% lainnya beralasan datang ke PRJ untuk mendapatkan atau melihat informasi tentang suatu produk tapi tidak berniat untuk membeli itu. 12% lainnya mengaku hanya ingin lihat-lihat saja, dan sisanya 7% mengaku ingin mencari promosi-promosi atau diskon menarik dari sebuah produk.



Media yang paling berpengaruh
PRJ dapat dikatakan sukses ketika berhasil menarik banyak pengunjung. Karena hal itu berarti terjadi transaksi jual beli dalam jumlah yang tak sedikit. Mengingat pengunjung adalah pusat keberhasilan festival ini, berbagai cara pun dilakukan oleh pihak penyelenggara untuk memikat pengunjung. Hal tersebut dimulai dari penyebaran informasi, baik melalui televisi, selebaran, iklan-iklan, maupun media masa. Tapi media apakah yang berhasil menarik perhatian pengunjung?
Ternyata, penyebaran informasi yang paling berhasil adalah melalui ?Word of Mouth? (mulut ke mulut). Terbukti dari 78% reponden mengaku mendapat informasi dari mulut ke mulut. Kemudian disusul dengan informasi yang ditayangkan di televisi (72%). Uniknya lagi, sosial media dan internet yang digadang-gadang sebagai pemberi informasi tercepat dalam hal ini tidak terlalu memiliki peran banyak, hanya sekitar 38% (sosial media) dan 15% (internet).



Tapi, pada awal periode hingga pertengahan PRJ, media yang paling berperan dan memengaruhi masyarakat adalah televisi (78%) dan iklan-iklan di luar seperti billboard, brosur atau pamflet (59%). Sedangkan informasi yang didapatkan melalui mulut ke mulut itu mulai bekerja di pertengahan hingga akhir periode PRJ. Dan, bukan hanya Word of Mouth saja yang bekerja di pertengahan hingga akhir periode, ternyata sosial media pun bekerja sebagai media yang paling berpengaruh. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Pada periode awal hingga pertengahan, masyarakat mulanya terpengaruh dari iklan-iklan baik yang disebar di televisi maupun billboard, brosur-brosur atau pamflet. Masyarakat tertarik, kemudian datang ke PRJ. Setelah mengunjungi langsung festival ini, kemudian masyarakat menyebarkan informasi dan juga banyak mem-posting komentar mengenai PRJ di sosial media. Sehingga, masyarakat lainnya yang belum mengunjungi PRJ lebih tertarik lagi ketika mendengar kabar dari mulut ke mulut serta rekomendasi-rekomendasi yang diberikan melalui sosial media.

Lalu, informasi apakah yang mereka dapatkan sehingga membuat mereka tertarik untuk mendatangi event ini? Riset ini menemukan setidaknya ada tiga informasi penting yang menarik minat pengunjung.
Pertama, informasi mengenai diskon dan promosi yang tersebar dari mulut ke mulut tadi. Hal tersebut nyatanya memanglah poin yang menarik dari pesta rakyat yang satu ini. Masyarakat berbondong-bondong mengincar barang yang ingin mereka beli dengan tawaran harga yang menggiurkan.
?Teman saya bercerita tentang beberapa diskon menarik di PRJ 2015?.
?Teman saya membeli barang yang saya inginkan dengan harga yang sangat murah?.
Begitulah penuturan beberapa responden mengenai informasi diskon yang menarik minat mereka ini.
Kedua, PRJ menyiapkan fasilitas parkir yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Fasilitas parkir ini menjadi salah satu alasan mereka mengunjungi PRJ karena saat berbelanja mereka ingin kendaraan yang mereka bawa dalam keadaan yang aman. ?Saya menonton berita yang mengatakan bahwa tahun ini PRJ menyediakan fasilitas parkir yang lebih baik. Itu adalah fakta menarik yang membuat saya ingin mengunjungi PRJ?, tutur seorang responden.
Ketiga, produk baru yang dikeluarkan saat PRJ 2015. Informasi mengenai peluncuran produk baru ini juga menarik pengunjung, khususnya bagi para pecinta otomotif dan gadget. Seperti penuturan responden yang satu ini. ?Di sana terdapat beberapa merek yang meluncurkan produk-produk baru merekadi PRJ tahun ini. Misalnya saja Yamaha yang hadir dengan produk barunya N-Max. Saya ingin melihat produk itu dan mungkin membelinya?.

Produk-produk yang diincar pengunjung
Setelah memutuskan untuk mengunjungi PRJ dan bahkan menyediakan budgetuntuk membeli sesuatu, lalu produk apa sajakah yang sering diincar oleh pengunjung? Berdasarkan riset, seluruh responden dalam penelitian ini mengaku ingin membeli makanan dan minuman. Dan sebanyak 100% wanita berencana untuk membeli hal-hal yang berhubungan dengan fashion. Uniknya, 93% pria pun mengincar barang-barang fashion. Wah, ternyata bukan hanya wanita saja yang memperhatikan fashion loh.
Produk lainnya yang ingin mereka beli adalah gadget seperti telepon genggam, laptop, tablet, dan semacamnya. Terbukti dengan sebanyak 44% responden mengaku mengincar barang yang satu ini. Kemudian sisanya adalah produk rumah tangga yang didominasi dengan kaum wanita (39%), alat-alat elekronik (22%), mobil atau otomotif yang didominasi oleh kaum pria sebanyak 14%, dan terakhir adalah aksesoris motor yang jelas didominasi oleh kaum pria sebanyak 21%.



Lantas, apakah barang-barang yang mereka incar tersebut benar-benar mereka beli? Ternyata makanan & minuman serta produk fashion yang paling banyak diincar tersebut, hanya benar-benar dibeli oleh 94% orang. Begitu juga dengan gadget yang sebelumnya diincar oleh 44% responden, nyatanya hanya 13% saja yang benar-benar membeli. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada responden yang benar-benar membeli mobil meski sebelumnya ada sekitar 13% yang berencana untuk membelinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
?Saya tidak menemukan smartphone yang pas?.
?Saya masih harus mempertimbangkannya, dan mungkin saya akan membelinya nanti?.
?Saya masih harus mendiskusikannya dengan keluarga?.
Begitulah kira-kiranya alasan mereka yang pada akhirnya tidak jadi membeli apa yang mereka rencanakan. Khususnya dengan mobil yang pada akhirnya tidak ada satu pun yang jadi membeli, hal tersebut dikarenakan membeli mobil tidak seperti barang lain yang bisa diganti kapan saja. Perencanaan penggunaannya tentu dalam jangka waktu yang lama, sehingga untuk membelinya butuh pertimbangan yang sangat matang.



Lantas, apakah barang-barang yang mereka incar tersebut benar-benar mereka beli? Ternyata makanan & minuman serta produk fashion yang paling banyak diincar tersebut, hanya benar-benar dibeli oleh 94% orang. Begitu juga dengan gadget yang sebelumnya diincar oleh 44% responden, nyatanya hanya 13% saja yang benar-benar membeli. Yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada responden yang benar-benar membeli mobil meski sebelumnya ada sekitar 13% yang berencana untuk membelinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
?Saya tidak menemukan smartphone yang pas?.
?Saya masih harus mempertimbangkannya, dan mungkin saya akan membelinya nanti?.
?Saya masih harus mendiskusikannya dengan keluarga?.
Begitulah kira-kiranya alasan mereka yang pada akhirnya tidak jadi membeli apa yang mereka rencanakan. Khususnya dengan mobil yang pada akhirnya tidak ada satu pun yang jadi membeli, hal tersebut dikarenakan membeli mobil tidak seperti barang lain yang bisa diganti kapan saja. Perencanaan penggunaannya tentu dalam jangka waktu yang lama, sehingga untuk membelinya butuh pertimbangan yang sangat matang.



Tingkat kepuasan pengunjung
Setelah mengunjungi PRJ dengan berbagai macam alasan dan keinginan. Riset ini juga berhasil mengungkapkan tingkat kepuasan para pengunjung terhadap festival ini.
Kepuasan yang tertinggi dicapai dalam elemen panggung hiburan yang diadakan oleh PRJ dengan angka sebanyak 85%. Sedangkan yang harus menjadi pekerjaan rumah bagi pihak penyelenggara adalah fasilitas toilet yang mana memiliki kepuasan paling kecil dengan perolehan persentase sebesar 53%. Meskipun begitu, masih banyak hal yang membuat pengunjung merasa puas dengan event ini, seperti fasilitas parkir, keamanan, harga produk, dan sebagainya. Semoga pihak penyelenggara bisa terus meningkatkan kualitas sehingga kepuasan masyarakat akan terus meningkat tiap tahunnya.



Nah, berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas kita bisa lihat kan apa saja yang menjadi faktor keberhasilan PRJ yang diakui sebagai pesta rakyat terbesar ini. Tentunya kita berharap semoga ke depannya penyelenggara PRJ ini bisa terus meningkatkan kualitas festival yang satu ini, sehingga di tahun-tahun berikutnya festival ini tetap menjadi festival yang ditunggu-tunggu. Ya, semoga..