Artikel

Penulis ,
Musik adalah bahasa universal. Itu memang benar. Tapi apakah kesadaran membeli musik original juga menjadi sesuatu yang universal?
Harus diakui, sekarang ini kita makin jarang melihat toko-toko maupun lapak penjual CD musik bajakan. Fenonema ini bukan melulu karena aparat yang makin rajin melakukan razia terhadap penjual CD bajakan. Kemajuan zaman tampaknya telah mengubah perilaku para pembeli yang lebih menyukai medium digital dibandingkan fisik seperti CD dan kaset.
Semakin kencangnya broadband internet di Indonesia rupanya berkontribusi pula terhadap situs-situs penyedia download musik secara gratisan. Di sini, kita tidak perlu lagi jongkok di emperan lapak tertentu untuk memilih-milih jenis lagu yang mau dibeli.
Tingkat kepraktisan men-download musik juga membuat kita terhindar dari aksi memalukan ketika lagu culun yang ingin dibeli kemudian dijajal dan diperdengarkan lewat speaker sember yang membuat orang di sekitar menengok ke arah kita?selaku pembeli produk bajakan.
Dengan menjelajahi situs-situs penyedia musik, cukup duduk manis di depan komputer atau laptop, kita bisa memilih-milih lagu yang diinginkan. Bahkan, metode seperti ini juga telah hadir dalam berbagai aplikasi smartphone yang memungkinkan pengguna smartphone atau tablet men-download musik langsung dari perangkatnya. Apalagi, selling-point dari situs-situs ini adalah they don't sell music. Gratis, tidak usah bayar.
Nah, kemudahan dan gratifikasi seperti ini rupanya membuat mereka yang mengaku pencinta musik lebih suka membeli produk musik bajakan via download dari provider dan aplikasi tertentu dibandingkan datang ke toko musik resmi dan sumber pembelian digital yang terpercaya.
Seberapa pun mirisnya fenomena pembajakan musik di Tanah Air, setidaknya masih ada sedikit asa dari kalangan yang percaya bahwa musik yang dibeli secara original kualitasnya lebih baik dibandingkan bajakan. Ya, hal ini mengacu pada survei yang dilakukan secara online oleh Inside ID terhadap 260 responden, dimana terungkap bahwa tidak sedikit dari mereka yang membeli musik secara resmi. Survei yang dilakukan pada Maret lalu ini menunjukkan bahwa sebanyak 23% responden masih membeli CD/kaset/piringan hitam original dan 15% membelinya secara digital.


Hanya saja, dengan akumulasi 38% responden yang menyatakan membeli musik secara 'halal', tetap masih kalah dengan mayoritas responden yang mengaku membelinya dengan cara men-download secara gratis. Hal ini tentunya menjadi fakta yang bisa dibilang cukup memprihatinkan mengingat sebanyak lebih dari 90% responden mengaku menyukai musik.
Jadi, bisa dibilang ketika penjualan CD bajakan nyaris sepi, bukan berarti pelanggaran terhadap hak cipta hilang begitu saja. Di tengah penetrasi internet yang kian tinggi, justru tren pembajakan bergeser ke metode download gratisan. Apakah dunia musik sudah kiamat? Semoga saja tidak. Yuk, kita hargai hak cipta para musisi dengan membeli karyanya dari sumber yang resmi.