Artikel

Penulis ,
Himbauan bahaya merokok harus diakui lebih kencang dibandingkan ajakan untuk menabung. Bahkan slogan-slogan mengenai bahayanya digembar-gemborkan melebihi janji-janji kampanye politikus. Apakah dengan begitu jumlah perokok aktif lebih sedikit dibandingkan mereka yang golput?
Di sini kami tidak membahas hubungan antara merokok dan golput. Tapi memang populasi perokok lebih mudah ditemui dari pada mereka yang mengaku golput. Entah itu di kafe, di pinggir jalan, bahkan di dalam transportasi umum seperti angkot dan Kopaja, tetap saja ada perokok yang dengan asyiknya mengepulkan asap rokok tanpa ada rasa bersalah dengan orang-orang di sekitarnya.
Harus diakui, mereka yang merupakan perokok aktif memang terbilang sulit meninggalkan rokok. Hal ini bisa dilihat dari survey yang dilakukan Inside ID terhadap 321 responden di Jabodetabek pada bulan Maret lalu dan menemukan fakta unik terkait perilaku perokok yang menghentikan kebiasaan merokoknya. Ternyata faktor utama mereka meninggalkan kebiasaan ini bukanlah pacar, teman, atau gebetan, tetapi penyakit. Ya, sebanyak 43% responden mengaku meninggalkan rokok karena alasan tersebut.
Anehnya, himbauan mengenai potensi gangguan kehamilan dan janin pada rokok tampaknya diabaikan oleh wanita perokok. Ya, dari responden wanita yang disurvei, hanya 20% dari mereka yang memutuskan berhenti merokok karena himbauan tersebut. Sementara sisanya, yakni 30% responden baru berhenti merokok ketika sudah terkena penyakit.


Hasil survei Inside ID juga mengungkapkan bahwa wanita perokok terbilang lebih 'pelit' dari pria perokok. Hal ini dibuktikan dari persentase sebanyak 20% responden wanita mengaku berhenti merokok karena aktivitas ini dianggap menghambur-hamburkan uang, sementara perokok pria lebih 'royal' karena hanya memiliki persentase sebanyak 8% saja.
Nah, bagaimanakah menurut kamu, apakah memang merokok segitu nikmatnya sehingga susah untuk dihentikan atau memang himbauan yang digembar-gemborkan adalah sebuah omong kosong?