Artikel

Penulis ,
Selama ini, saat media menayangkan cerita-cerita mistis, kita cenderung menganggap bahwa itu sebagai pembodohan masyarakat. Tayangan horor dianggap sebagai tayangan yang tak berkualitas dan kurang menarik. Kita akan lebih tertarik dengan tayangan-tayangan berbau cinta, komedi, religi, dan lain sebagainya.
Tapi apakah benar bahwa film horor atau media penyebar cerita horor lainnya hanya menampilkan hal-hal yang tidak berkualitas? Melalui riset Inside.ID kali ini kita akan mengetahui bagaimana media-media cerita horor ini berperan? Seburuk yang selama ini kita bayangkan kah?
Nah, sebelumnya kita akan menjawab dulu apakah sebenarnya masyarakat menyukai cerita-cerita horor?
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Inside.ID terhadap 493 responden, ternyata sebanyak 3 dari 5 orang mengaku menyukai cerita-cerita menyeramkan. Selain itu, umumnya yang menyukai cerita-cerita ini adalah kaum pria yakni sebanyak 70% responden pria menyukai cerita seram. Menariknya lagi, riset ini menemukan bahwa kalangan atas lebih menyukai cerita-cerita ini dibandingkan kalangan bawah.
Ganeshyana, seorang lulusan Unikom mengatakan dalam skripsinya bahwa tema mistik adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Mistik adalah sebuah tema yang sangat dekat dengan cara berpikir dan memori kultural sebagain besar masyarakat Indonesia.
Nah, jadi tak heran ya kalau cerita-cerita menyeramkan kerap kali meramaikan obrolan kita bersama kerabat. Tapi, apakah cerita-cerita tersebut hanya kita dapatkan dari mulut ke mulut saja? Riset kali ini berhasil menemukan media-media apa yang berperan sebagai penyebar cerita-cerita horor.
Selain mouth to mouth atau dari mulut ke mulut, media yang paling sering diincar adalah internet. Keduanya memiliki persentase yang sama yakni 67%. Kemudian media yang berperan selanjutnya adalah film horor sebanyak 37%. Hal ini membuktikan bahwa selama ini media yang menayangkan cerita-cerita menyeramkan yang kita anggap kurang bermutu ternyata memang berhasil menjawab kebutuhan masyarakat akan cerita-cerita mistis.
Menurut Askurifai Baksin, seorang jurnalistik televisi mengatakan film horor Indonesia cenderung diangkat dari tradisi, adat, dan ritual yang menampilkan keadaan yang dialami masyarakat sekitar. Ketegangan, kerisauan, kejijikan, dan berbagai ketidakmasukakalan yang disuguhkan dalam film-film horor merupakan situasi yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.
Nah, hal tersebut semakin menguatkan bahwa media yang menyajikan cerita horor telah berhasil merepresentasikan mitos-mitos yang terjadi di sekitar masyarakat. Jadi, jangan menganggap remeh ya kehadiran media-media penyebar cerita horor ini.