Artikel

Penulis ,
E-Commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 saat banner elektronik pertama kalinya digunakan untuk promosi dan iklan di sebuah halaman website. Pada awalnya banyak jurnalis yang memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru. Namun, baru sekitar empat tahun kemudian protocol aman seperti HTTPS memasuki tahap matang dan banyak digunakan, antara tahun 1998 dan 2000 mulailah banyak bisnis di AS dan Eropa yang mengembangkan situs web perdagangan ini. Di Indonesia sendiri, e-commercetelah ada sejak tahun 1996 yang ditandai dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net (www.dnet.net.id) sebagai perintis transaksi online. Di awal tahun 2016, harianjogja.com mengungkapkan bahwa penetrasi dari e-commercemencapai 13,4%. Wow!
Melihat kesuksesan e-commerce tentu kita jadi bertanya-tanya, apa sih yang menjadi faktor utama di balik kesuksesannya? Seperti yang dilansir harianjogja.com, Lazada ?sebuah perusahaan e-commerce- melihat bahwa faktor kunci yang bisa membuat masyarakat berbelanja online bukanlah kepercayaan, akan tetapi pengetahuan. Ya, pengetahuan. Pengetahuan menjadi faktor yang mendahului kepercayaan.
Mengapa pengetahuan? Potensi terbesar dari e-commerce adalah masyarakat yang belum mengetahui apa itu e-commerce. Oleh sebab itu, dalam hal ini kehadiran media yang mengenalkan e-commerce kepada masyarakat sangatlah penting. Karena jelas, masyarakat memiliki pengetahuan bersumber dari media tersebut. Lalu, media-media apakah yang berada di balik kesuksesan e-commerce?
Bulan Maret-April lalu, Inside.ID berhasil menemukan media-media apa saja yang berpengaruh dalam proses pengenalan e-commerce. Berikut selengkapnya!



Sosial media seperti Path, Twitter, Facebook, dan Instagram merupakan media yang paling berpengaruh dalam menyebarkan informasi mengenai e-commerce. Kemudian google menjadi sumber kedua yang paling banyak digunakan, terutama di kalangan pria. Yang mengagetkan dari riset ini adalah, media televisi yang sedang dibanjiri iklan-iklan e-commerce ternyata tidak begitu memiliki pengaruh besar. Padahal spending perusahaan-perusahaan e-commerce untuk iklan TV tidaklah main-main.
Sapto Anggoro, CEO Adstensity ?sebuah lembaga riset periklanan- menyatakan bahwa pada kuartal I 2016, total belanja iklan semua produk di 13 stasiun TV nasional mencapai Rp22,92 triliun. Jumlah tersebut naik 69.09% jika dibandingkan dengan belanja iklan pada kuartal I tahun 2015 yang hanya mencapai Rp13,55 triliun. Brand-brand yang mewakili sektor Marketplace antara lain Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, dan OLX. Total belanja iklan Tokopedia mencapai Rp165 miliar (7.202 ad spot), Bukalapak Rp128 miliar (3.228 ad spot), Elevenia Rp97 miliar (3.306 ad spot), dan OLX Rp87 miliar (2.746 ad spot). Total belanja iklan keempatnya adalah sekitar Rp 477 miliar sepanjang kuartal I 2016.
Wah, angka yang cukup tinggi ya. Tapi sayangnya hal itu tidak begitu efektif bagi penyebaran informasi mengenai e-commerce. Tapi, biarlah itu menjadi pekerjaan rumah perusahaan-perusahaan e-commerce. Selanjutnya mari kita bahas mengenai brand-brand e-commerce yang berhasil memikat hati para konsumen.



Berdasarkan riset, Lazada menjadi website e-commerce yang paling dikenal oleh masyarakat. Hebatnya lagi, Lazada menjadi e-commerce yang paling diingat (top of mind) oleh 35% responden. Setelah Lazada, perusahaan e-commerce berikutnya yang paling banyak dikenal adalah Tokopedia. Tak hanya dikenal, ia juga menjadi e-commerce kedua yang paling diingat setelah Lazada. Di sisi lain, Mataharimall yang tidak begitu terkenal di masyarakat (35%) nyatanya masuk ke dalam urutan tiga teratas e-commerce yang paling diingat (8%).
Lazada, yang menjadi e-commerce paling dikenal serta diingat ini memang masuk ke dalam barisan top online retailer di Indonesia. Lazada menawarkan berbagai produk mulai dari elektronik, mainan anak, produk kesehatan, kecantikan, hingga perlengkapan rumah tangga. Lazada pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 2012. Lazada seringkali menawarkan diskon dengan harga yang menarik. Selain itu juga Lazada tidak mengenakan biaya sama sekali untuk ongkos kirim barang. Dalam pengirimannya, Lazada menggunakan kurir yang professional sehingga keamanannya begitu terjamin. Pelayanan-pelayanan inilah yang kemudian membawa Lazada menjadi brand yang begitu melekat di hati konsumen.
Selanjutnya di urutan kedua adalah Tokopedia. Tokopedia menjadi e-commerceyang paling besar mengeluarkan dana untuk iklan di televisi. Jumlah spot iklannya mencapai 7.202 spot. Meski kesadaran masyarakat akan iklan e-commerce di televisi cukup rendah, rasanya Tokopedia tak begitu bersedih hati, sebab menduduki top brand awareness sudah setimpal dengan apa yang telah mereka keluarkan.
Di urutan ketiga top brand awareness diraih oleh Bukalapak. Bukalapak juga termasuk perusahaan dengan spending iklan televisi terbesar kedua. Bukalapak didirikan oleh Achmad Zaky pada awal tahun 2010. Dalam sebuah wawancara di liputan6.com, Achmad Zaky mengaku fokus utama mereka adalah kepercayaan penjual dan pembeli, serta kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi. Saat ini, Bukalapak menyediakan lebih dari 1,25 juta produk dengan penambahan 80 ribu produk setiap harinya. Jumlah pedagang di situs e-commerce ini mencapai angka 140 ribu pedagang dengan nilai transaksi sekitar 20 miliar tiap bulannya.
Pelayanan yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce dilakukan semata-mata untuk memberikan kualitas maksimal kepada para konsumen. Semakin baik kualitas yang diberikan maka semakin loyal pula konsumen kepada perusahaan e-commerce. Salah satu bukti loyalitas mereka adalah dengan berlangganan surat kabar yang disediakan oleh e-commerce.



Riset ini menemukan bahwa sebanyak 3 dari 4 responden mengaku kalau mereka berlangganan surat kabar yang disediakan oleh e-commerce. Dengan berlangganan surat kabar atau katalog-katalog dari situs e-commerce menunjukkan bahwa konsumen tidak mau ketinggalan info dan tentunya penawaran-penawaran menarik dari situs e-commerce. Secara tak sadar, ini membuktikan bahwa mereka begitu membutuhkan e-commerce. Dan tentu ini menunjukkan loyalitas konsumen, karena itu tandanya mereka mulai percaya dengan produk yang ditawarkan perusahaan tersebut.
Berbicara loyalitas maka kita bicara mengenai bagaimana e-commerce mampu menarik hati para konsumen. Riset ini menunjukkan bahwa sejak proses pengenalannya, e-commerce memang tidak sembarangan. Buktinya saja iklan di televisi yang mengeluarkan dana hingga bermiliar-miliar rupiah. Ya meskipun itu tidak begitu efektif dibanding media sosial, setidaknya hal ini menunjukkkan bahwa e-commerce tidak main-main dalam membangun hubungan yang baik dengan para konsumennya.