Artikel

Penulis ,
Salah satu prestasi Indonesia yang mau tidak mau mesti diakui adalah lunaknya regulasi mengenai peredaran rokok. Ya, bisa dibilang negeri ini adalah ?surganya? perokok. Jangankan di supermarket, warung pinggir jalan yang lokasinya berada di depan gedung sekolah saja diperbolehkan menjual rokok. Tua-muda, miskin-kaya, botak-gondrong, semuanya bebas-bebas saja beli rokok entah itu ketengan atau bungkusan.
Dengan banyaknya ?cabang? dan pendiriannya yang tidak terlalu rumit?cukup papan dan triplek plus spanduk ala kadarnya sebagai penutup?rupanya berpengaruh terhadap popularitas warung sebagai tempat favorit untuk membeli rokok. Di sini orang juga tidak perlu tampil grooming untuk membeli rokok, di mana setelah bayar bisa langsung bakar dan hisap di tempat. Jadi tak mengherankan sebanyak 141 orang dari 321 responden yang disurvei Inside ID pada bulan Maret lalu di Jabodetabek memilih warung sebagai tempat paling asyik untuk membeli rokok.
Hanya saja, daya tarik warung itu tidak berlaku bagi wanita perokok, di mana ketika sebanyak 46% pria perokok merasa oke-oke saja membeli rokok di warung tradisional, hanya sebanyak 29% dari mereka yang ?berani? datang ke tempat ini untuk membeli rokok. Mayoritas dari mereka lebih memilih membeli rokok di supermarket dengan persentase mencapai 43% responden, sementara perokok pria hanya 33% yang sepaham dengan hal ini.



Mengenai alasan kenapa wanita perokok ?alergi? ke warung, bisa jadi dikarenakan tempat ini dianggap sangat terbuka dan cenderung berada di keramaian. Apalagi masyarakat di Indonesia masih memiliki persepsi negatif terhadap wanita yang merokok. Jadi, dari pada dianggap yang tidak-tidak hanya karena membeli rokok, mereka lebih memilih mendatangi supermarket yang pengunjungnya terbilang modern.
Untuk jumlah rokok yang dibeli, mayoritas perokok baik itu pria dan wanita terlihat kompak, di mana kebanyakan membeli per bungkus sekali dalam sehari. Sementara itu, pada jenisnya mereka juga memfavoritkan rokok putih dengan persentase di atas 80%, dibandingkan rokok kretek. Hal ini tentunya erat dengan anggapan yang menyebutkan jika rokok putih cenderung lebih ?aman? dibandingkan kretek yang tidak memiliki filter. Padahal, jika dilihat dari kandungan nikotin yang dimiliki, hampir tidak ada perbedaan dari kedua jenis rokok itu jika dilihat dari potensi bahayanya bagi kesehatan.